Jelang penerimaan siswa baru (PSB), kalangan perajin kulit di Ponorogo mengeluh. Pasalnya, produksi mereka bakal tak bisa maksimal. Saat ini mereka kesulitan mendapatkan kulit sebagai bahan baku membuat sepatu dan perlengkapan sekolah lainnya. ”Bahannya agak sulit, apalagi kalau harus mendatangkan banyak,” terang Supali, perajin sepatu di Kelurahan Keniten, Kecamatan Ponorogo (Kota).
Menurut Mbah Pali, sapaan akrabnya, kulit tersebut didatangkan dari Magetan. Saat musim hujan seperti sekarang, butuh waktu cukup lama untuk mengeringkan dan mengolah kulit mentah. Sehingga pesanan tak bisa langsung dilayani. Padahal, tiap hari harus terus produksi. ”Biasa kalau musim penghujan seperti ini,” katanya.
Selain faktor musim, saat ini perajin kulit juga menerapkan pola pembayaran tunai. Padahal sebelumnya pembayaran bisa dicicil. Atau menyusul setelah pengiriman kulit. Sekarang sebelum kulit dikirim uang harus dibayar. ”Modal kami itu kan terbatas, makanya saat diterapkan sistem tunai kami kesulitan,” ujarnya.
Hal senada juga diungkapkan Suyanto, perajin kulit di Desa Sukorejo, Kecamatan Sukorejo. Menurutnya, keterbatasan modal menyebabkan perajin tak bisa menyiapkan produk banyak. Sehingga, saat PSB yang biasanya banyak order tak bisa melayani semua. ”Ya kalau produk sudah terjual baru bisa punya modal untuk beli bahan baku lagi,” ujarnya.
Untuk itu, Supali maupun Suyanto berharap ada bantuan dari pemerintah. Khususnya, bantuan permodalan dengan sistem lunak, jangka panjang dan bunga yang murah. Dengan bantuan itu, pihaknya optimistis akan mampu meningkatkan produksi mereka. ”Modal memang masalah klasik, tapi sampai sekarang belum terpecahkan juga,” keluhnya.
JPNN
Artikel yang berhubungan :
Komentar :