Tak ingin dikatakan lamban, Pemkab Ponorogo langsung mengambil langkah taktis menangani bencana tanah retak di Dusun Bungkul, Desa Wates, Kecamatan Slahung. Sekdakab Luhur Karsanto mengatakan bakal merelokasi warga yang rumahnya roboh. ”Relokasi itu memang wajib dilakukan dan pemkab siap membantu itu,” terangnya.
Menurut Luhur, pemkab sebenarnya sudah mengetahui indikasi longsor sejak sebulan lalu. Bahkan, saat itu pihaknya telah menawarkan warga untuk secepatnya relokasi. Hanya, saat itu warga masih memilih bertahan. ”Persoalannya nanti tinggal bagaimana sikap warga tentang rencana relokasi itu,” katanya.
Soal tempat relokasi, masih belum ditentukan. Sebab, relokasi harus melalui persetujuan warga sekitar. Baru setelah itu pihaknya akan koordinasi dengan pemerintah desa mencarikan tempat relokasi. ”Kalau soal tempat, nanti dibahas bersama pemerintah desa di mana baiknya,” tambahnya.
Sementara Saemun, 55, salah satu warga yang rumahnya roboh akibat pergerseran tanah mengaku bisa menerima relokasi. Hanya, dia berharap lokasinya benar-benar aman. Selain itu, tempat tersebut juga cocok untuk bertani yang menjadi mata pencaharian utama warga. ”Aman tapi tak bisa bercocok tanam ya percuma, dari mana kami bisa makan?” katanya.
Saemun juga berharap pemkab jangan sekadar mencarikan lahan relokasi. Tapi juga bantuan pembangunan rumah. Sebab saat ini dia dan warga lainnya sudah tak memiliki tabungan untuk membeli material bahan bangunan.
Hal itu juga diungkapkan Nanta Budi Haryanto, kepala desa setempat. Menurutnya, semua warga pada prinsipnya bisa menerima rencana relokasi. Hanya, pemkab juga harus turun tangan dalam prosesnya. ”Yang dimiliki warga itu sekarang cuma persediaan makanan yang hanya cukup empat hari. Jadi kalau harus membeli bahan bangunan rasanya sudah tak mampu lagi,”pungkasnya.
JPNN
Artikel yang berhubungan :
Komentar :